Hanya dengan Satu Hadis anda bisa Membungkam Syiah



Banyak orang yang menjadi Syiah karena menganggap Ali bin Abi Thalib lebih mulia daripada Abu bakar, Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan, karena beliaulah yang dikader langsung oleh Rasulullah sejak kecil, diajarkan padanya banyak ilmu yang tidak disampaikan kepada sahabat-sahabat yang lain, dan Rasulullah menitipkan padanya wasiat untuk menjadi khalifah dan pelanjut risalah kepemimpinan Islam setelah sang Nabi wafat.

Ulama-ulama Syiah berhasil menipu para awam dengan menyembunyikan hakikat yang sebenarnya, menipu umat dan menggiring mereka menuju kesesatan hanya karena umat yang awam itu tidak tahu satu hadis yang sangat sederhana yang andaikan mereka tahu, banyak orang Syiah yang bertaubat kembali kepada ajaran Islam yang murni.

Salah satu pentolan Syiah Indonesia, Jalaluddin Rakhmat, menulis dalam bukunya, Meraih Cinta Ilahi, “Pernah suatu saat Imam Ali kw. Dikirim untuk menaklukkan pemberontakan yang tidak bisa ditaklukkan oleh para sahabat Nabi yang lain. Ketika Ali pulang dari tugas itu, sambil memeluk Ali, Nabi bersabda, ‘kalau aku tidak takut umatku memperlakukan kamu seperti orang-orang Kristen memperlakukan Nabi Isa as., aku akan ceritakan kepada mereka sesuatu yang sekiranya engkau lewat, orang akan memperebutkan bekas injakan kakimu.’ Kemudian Rasulullah Saw mengatakan sesuatu kepada Imam Ali kw. Dalam waktu yang lama. Karena lamanya hal itu, para sahabat bertanya-tanya ihwal perbincangan itu. Setelah Imam Ali kw. Keluar, ia berkata, ‘Baru saja Rasulullah membukakan kepadaku satu bab ilmu pengetahuan. Dan dari satu bab itu dibuka lagi seribu bab ilmu pengetahuan yang lain’.

Rasulullah Saw mendidik Imam Ali kw. Sejak kecil. Jika kita ingin tahu siapa kader Rasulullah Saw yang dikaderkan sejak awal, itulah Imam Ali kw. Saya sebut sebagai ‘kader’, karena Rasulullah Saw benar-benar mempersiapkan Imam Ali kw. Sejak awal. Rasulullah mengajarkan kepadanya satu pelajaran khusus yang tidak diberikan kepada sahabat-sahabatnya yang lain. Sebagian di antara kita merasa keberatan akan hal ini. ‘Masa Rasulullah Saw mengajar dengan pilih kasih. Bukankah salah satu sifat nabi adalah at-Tabligh? Jadi Nabi harus menyampaikan seluruhnya. Masa Nabi menyembunyikan kepad sebagian sahabat, dan hanya menyampaikan kepada Ali bin Abi Thalib?’

Rasulullah Saw adalah guru yang baik. Seorang guru yang baik tidak akan mengajarkan seluruh ilmu kepada semua orang. ilmu itu diajarkan sesuai dengan tingkat pengetahuan orang yang diajari. Imam Ali kw., sebagaimana diakui oleh para sahabat yang lain, adalah orang yang paling tinggi derajat keilmuannya. Karena itulah tentu saja ada ilmu yang diajarkan kepada Imam Ali kw., yang belum bisa disampaikan kepada sahabat Nabi yang lain yang kualifikasi keilmuannya belum sampai kesitu.

Tentang ilmu Imam Ali kw. Ini, Rasulullah Saw bersabda, ‘Akulah kota ilmu dan Ali-lah pintunya. Barang siapa yang mau memasuki kota hendaklah ia datang melalui pintunya.’ Hadis ini sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah Saw. Nabi mengkader Ali sejak awal dengan maksud untuk mempersiapkannya sebagai pelanjut yang akan meneruskan ajaran Islam sepeninggal Rasulullah saw.” (Meraih Cinta Ilahi, hal 283-284)

Argumen semacam inilah yang banyak membuat orang pindah ke Syiah, karena merasa tidak ada sahabat yang pantas mengajarkan Islam yang murni kecuali Ali bin Abi Thalib, tidak ada yang berhak memimpin Islam setelah wafatnya Rasulullah kecuali Ali bin Abi Thalib, karena beliaulah kader militan yang telah dididik oleh Nabi sejak awal dank arena beliaulah yang diwasiatkan khusus oleh Nabi menjadi pengganti setelahnya.

Namun apakah semua yang disampaikan Jalaluddin Rakhmat di atas benar adanya? Kita perlu bersikap kritis, karena beberapa riwayat yang disampaikan Jalaluddin Rakhmat di atas ternyata tidak disebutkan sumbernya, itu namanya tidak ilmiah, padahal ini persoalan manhaj/ metode beragama sesorang.

Benarkah ada ilmu khusus yang diajarkan Nabi kepadanya yang tidak diajarkan kepada sahabat-sahabat yang lain, benarkah ada wasiat khusus untuk memimpin Islam sepeninggal Nabi?

Inilah dia satu hadis yang akan menjawab itu, Hadis Ali bin Abi Thalib,


حَدَّثَنَا يَحْيَى، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ قَيْسِ بْنِ عُبَادٍ، قَالَ: انْطَلَقْتُ أَنَا وَالْأَشْتَرُ، إِلَى عَلِيٍّ، فَقُلْنَا: هَلْ عَهِدَ إِلَيْكَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا لَمْ يَعْهَدْهُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً؟ قَالَ: لَا، إِلا مَا فِي كِتَابِي هَذَا، قَالَ: وَكِتَابٌ فِي قِرَابِ سَيْفِهِ، فَإِذَا فِيهِ " الْمُؤْمِنُونَ تَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ، وَهُمْ يَدٌ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ، وَيَسْعَى بِذِمَّتِهِمْ أَدْنَاهُمْ، أَلا لَا يُقْتَلُ مُؤْمِنٌ بِكَافِرٍ، وَلا ذُو عَهْدٍ فِي عَهْدِهِ، مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ، وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ "


Beliau ditanya oleh dua orang dari generasi Tabi’in, Qais bin Ubadah dan Al-Asytar, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengajarkan sesuatu yang tidak beliau ajarkan kepada sahabat-sahabat yang lain?”, Ali kemudian menjawab, “Tidak, kecuali yang berada dalam tulisan ini!” beliau kemudian mengeluarkan sebuah tulisan yang disimpan di dekat pedangnya, di situ tertulis, “Darah Kaum Mukminin itu sederajat (tidak dibedakan antara darah orang kaya dan miskin), orang yang berusaha membunuh kafir Dzimmi (yang berada dalam lindungan kaum Muslimin) adalah orang yang paling rendah di antara mereka, mereka adalah pelindung terhadap orang selain mereka. ketahuilah, Seorang mukmin yang membunuh kafir dzimmi tidak boleh dibunuh, begitu pula orang yang berusaha memenuhi janjinya. Siapa yang mengada-adakan dalam agama, atau menjadi seorang yang pembuat hal baru (yang tidak diajarkan Nabi) maka baginya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. ” (HR. Abu Dawud, 4530, An-Nasa’i, 6936 dan 6948, Ahmad I/122, Abu Ya’la, 628, Ath-Thahawi Fi Syarhi Ma’anil Atsar, III/192, Ad-Daroquthni, III/98, Baihaqi, VIII/29, Dishahihkan oleh Al-Bani di Shahih Abu Dawud)

Di dalam hadis yang khusus dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib ini tidak tertulis di dalamnya banyak ilmu pengetahuan (sebagaimana anggapan Jalaluddin Rakhmat bahwa Ali diajarkan oleh Rasulullah seribu bab ilmu pengetahuan) apalagi teks “Anda wahai Ali adalah khalifah setelahku!”,

Jika ada sesuatu yang khusus yang tidak dimiliki oleh sahabat yang lain seperti ilmu khusus atau wasiat Imamah mestinya tertuang dalam hadis ini, namun kenyataannya bukan itu yang tertulis.

Ini menunjukkan bahwa tidak ada ilmu yang dikhususkan kepada sebagian sahabat, tidak ada wasiat khusus, apalagi tentang Imamah untuk Ali bin Abi Thalib. Mudah-mudahan dengan satu hadis rahasia milik Ali bin Abi Thalib ini  dapat membuka pikiran serta hati orang-orang Syiah agar mengerti hakikat yang sebenarnya mereka tidak tahu.


sumber artikel