Menikmati Pulau Rinca Yang Eksotis

Menikmati Pulau Rinca Yang Eksotis

Kemenangan Komodo sebagai salah satu New7Wonders menjadi hewan purba ini dikenal, tidak hanya di kalangan domestic tapi juga di mancanegara. Alhasil, dalam waktu sekejap, nama komodopun telah mendunia. Imbasnya banyak wisatawan –khususnya wisatawan dari luar negeri—yang tertarik menyaksikan hewan yang dipercaya merupakan satu-satunya reptile purba yang masih tersisa ini.

Terletak di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, komodo hidup di empat tempat yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo, yakni Pulau Komodo, Pulau Rinca, Gili Motang, dan Nusa Kode. Kendati nama Pulau Komodo lebih dikenal, tapi wisatawan lebih banyak berkunjung ke Pulau Rinca. Alasannya selain jarak tempuhnya lebih dekat, populasi Komodi di pulau ini juga lebih banyak.

Hamparan Gurun Savana

Butuh 2 jam lebih perjalanan untuk tiba di pintu masuk Pulau Rinca, Loh Buaya atau Teluk Buaya. Pulau seluas 19 ribu hektar ini populasi komodo mencapai 2.318 ekor, atau lebih banyak jika disbanding Pulau Komodo yang hanya 2.126 ekor. Meski sudah sampai di Pulau Rinca, ada juga wisatawan yang belum merasa puas jika belum menginjakkan kaki di Pulau Komodo.

Pulau Rinca memiliki hamparan alam yang menakjubkan. Terdapat patung komodo setinggi tiga meter yang tidak jauh dari pintu dermaga. Pemandangan di Pulau Rinca seperti di gurun savana. Walaupun tandus dan gersang tapi indah.

Namun, pemandangan gersang itu tidak lama. Berikutnya sudah banyak pepohonan bakau yang sudah banyak menghiasi habitat sang naga purba ini.

Begitu memasuki gerbang “Selamat Datang”, seekor komodo seolah menyambut kedatangan para wisatawan.  Ada beberapa trek atau rute yang bisa dipilih wisatawan, dari trek pendek hingga terpanjang, yang jaraknya antara  2 hingga 8 kilometer. Bagi Anda yang suka petualangan menantang, disarankan memilih trek terpanjang. Selain bisa terpuasakan menikmati pesona Pulau Rinca, kemungkinan menjumpai Komodo dengan berbagai ukuran, juga lebih besar tentunya.

Saat melewati jalur trekking, kita akan disuguhi pemndangan perbukitan dan hutan yang indah. Semuanya tampak alami. Teriknya matahari dan cerahnya langit menghiasi perjalanan. Selain itu juga ada rusa yang sedang memakan rumput dan beberapa monyet di atas pohon.

Seekor komodo di Pulau Rinca biasanya memangsa kerbau liar dan rusa. Saat berjumpa dengan komodo di alam bebas dilarang untuk berisik. Asal kita tidak mengganggu mereka, komodo-komodo itu pun tidak akan mengganggu kita.

Keadaan di dalam Taman Nasional Komodo memang dibiarkan liar dan alami. Selain komodo, hewan-hewan yang lain yang hidup di hutan tersebut juga dilindungi untuk menjaga pasokan makanan para komodo. Sehingga pemburuan terhadap hewan-hewan liar di lokasi ini pun dilarang.

Meski terlihat jinak, komodo termasuk hewan yang berbahaya. Selain di kenal dengan sebutan hewan pemangsa, rupanga air liur yang menetes dari lidah sang naga purba ini mengandung 60 bakteri yang mematikan. Untuk perempuan yang sedang datang bulan sebaikknya tidak mengikuti trekking atau paling tidak memberitahukan petugas, karena hewan ini sangat sensitive dengan bau darah.

Komodo memang sangat sensitive dengan darah. Ia bahkan bisa mencium darah dalam jarak 5km. Hewan ini juga sensitive dengan gerakan tiba-tiba dan suara berisik. Jika sudah mendapat gangguan-gangguan ini, komodo bisa gelisah bahkan agresif.

Seperti itulah komodo yang dipercaya sebagai peninggalan terakhir reptile purba yang masih tersisa. Dan, kita patut bersyukur karena hewan langka ini hanya dapat di jumpai di Indonesia, di Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.