Pilot Lion Air Sebut Pesawat Terasa Terseret dari Langit

Pilot Lion Air Sebut Pesawat Terasa Terseret dari Langit
Reuters

Pilot pesawat Lion Air yang gagal mendarat di landasan pacu Bandar Udara Ngurah Rai, Bali, dan mengakibatkan pesawat itu jatuh ke laut menjelaskan bahwa saat peristiwa itu dirinya merasa pesawat seperti terseret ke bawah oleh angin. Dikutip dari sumber Reuters, pilot itu mengaku saat itu terus berjuang untuk mendapatkan kembali kontrol pesawat.

Kantor berita Reuters melaporkan, Senin (15/4), semua penumpang yang berjumlah 108 orang serta awak pesawat selamat setelah pesawat jet Boeing 737 itu gagal mendarat di landasan pacu dua hari lalu.

Pihak berwenang juga menegaskan masih terlalu dini untuk mengatakan apa yang menjadi penyebab insiden itu. Saat ini, kecelakaan itu sedang diselidiki oleh pihak berwenang dan mendapat bantuan dari penyelidik kecelakaan Boeing Amerika Serikat.

Namun, dari pernyataan para saksi dan laporan cuaca sebelumnya menekankan adanya kemungkinan kecelakaan itu disebabkan oleh pergeseran angin atau penurunan grafik badai yang dikenal sebagai microburst.

Meski terbilang langka, para ahli mengatakan hembusan keras dan tidak terduga seperti itu memang dapat membuat pesawat jet paling modern sekalipun tidak berdaya. Apalagi jika kekuatan angin lebih besar dari kemampuan pesawat untuk keluar dari situasi itu.

"Jika Anda mendapat suatu masalah penurunan grafik yang melebihi performa pesawat Anda, meskipun jika Anda mendorong dengan kekuatan penuh maka akan pesawat Anda akan turun dan tidak bisa keluar," kata mantan kapten maskapai penerbangan British Airwash yang juga ahli dalam peristiwa hilang kendali pesawat, Hugh Dibley.

Pesawat Lion Air JT 960 yang terjatuh di sekitar Bandara Ngurah Rai Bali masih belum diketahui penyebabnya. Saat berangkat dari Bandung kondisi pesawat dalam kondisi normal.

Pilot kedua pesawat Lion Air, yang merupakan warga negara India dengan pengalaman 2.000 jam terbang, bertanggung jawab untuk perjalanan domestik yang dijadwalkan akan berlangsung selama satu jam 40 menit itu.

Sementara kapten pesawat yang merupakan warga Indonesia memiliki pengalaman 15 ribu jam terbang. Dia juga memegang lisensi instruktur dan menjadi pihak yang mengontrol pesawat itu.

Pilot menjelaskan pesawat terbang melalui dinding air sekitar 121 sampai 60 meter. Semburan deras dan hilangnya kemampuan jarak pandang merupakan hal yang tidak biasa di daerah tropis. Namun, dengan semakin rendahnya pesawat berarti membuat awak pesawat hanya memiliki sedikit waktu untuk bertindak.

Lantaran tidak bisa melihat lampu atau tanda di landasan, kapten pesawat akhirnya memutuskan untuk membatalkan pendaratan dan mulai berputar. Hal ini merupakan tindakan yang menjadi manuver rutin dari semua pilot yang terlatih dengan baik.

Namun, kapten pesawat mengatakan kepada pihak berwenang bahwa pesawat bukannya menaik, namun justru mulai menurun tidak terkendali.

"Kapten mengatakan dia bermaksud untuk berputar, namun dia merasa pesawat itu seperti terseret oleh angin. Ini sebabnya pesawat itu jatuh di laut," kata sumber yang enggan disebutkan identitasnya. "Hujan datang dari arah timur ke barat dan sangat deras."

Sumber mendapat penjelasan dari kesaksian para awak. Pihak Lion Air menolak untuk mengomentari penyebab kecelakaan.


[tts]

0 komentar