TAUHID DALAM AQIDAH ISLAM

TAUHID DALAM AQIDAH ISLAM

Islam mengelompokkan perbuatan manusia dengan hukum kausalitas. Ketika dia berbuat kebaikan, tentu akan mendapat pahala dari Allah SWT. Begitu pula ketika manusia berbuat dosa, akan ditimpakan dosa. Dari dosa yang dilakukan manusia, diklasifikasi lagi menjadi dosa besar dan kecil. Dan salah satu dosa besar yang tidak diampuni Allah adalah ketika hamba-Nya menyekutukan Allah (musyrik).

Seperti disampaikan Rasulullah SAW dalam haditsnya, “Semua nabi adalah bersaudara dan agama mereka adalah satu.” (Mutafaqqun ‘Alaih). Maksud dari agama mereka adalah satu ialah agama yang bertauhid, tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.

Agar hidup manusia menjadi lurus, Rasulullah menjadi pemandu bagi umatnya untuk memiliki aqidah yang lurus. Tidak menyekutukan Allah sedikit pun. Inilah yang membedakan Islam dengan agama lain. Islam itu menjadikan manusia untuk berserah diri dan menghamba kepada Pemilik Alam Semesta. Sesungguhnya shalatku, hidupku, dan matiku hanya untuk Rabbal’alamiin, Allah Yang Maha Esa.

Dalam perkembangannya, untuk memahami makna tauhid supaya lebih mudah, para ulama aqidah membagi tauhid itu menjadi 3 bagian:

Tauhid rububiyah

Tauhid rububiyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala perbuatan-Nya, seperti menciptakan dan mengatur alam semesta, menghidupkan dan mematikan, mendatangkan bahaya dan manfaat, memberi rizqi dan semisalnya. Allah Ta’ala berfirman, “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (QS. al-Faatihah : 1) Dan Nabi SAW bersabda, “Engkau adalah Rabb di langit dan di bumi.” (Mutafaqqun ‘Alaih)

Tauhid uluhiyah

Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam ibadah, seperti berdoa, bernadzar, berkurban, shalat, puasa, zakat, haji dan semisalnya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 163)

Nabi SAW bersabda, “Maka hendaklah apa yang kamu dakwahkan kepada mereka pertama kali adalah syahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah.” (Mutafaqqun ‘Alaih). Dalam riwayat Imam Bukhari, “Sampai mereka mentauhidkan Allah.”

Tauhid asma’ was shifat

Tauhid asma’ was shifat adalah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang telah disifati oleh Allah untuk diri-Nya di dalam Al-Quran atau yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW di dalam sunnah yang sahih tanpa takwil (menyelewengkan makna), tanpa tafwidh (menyerahkan makna), tanpa tamtsil (menyamakan dengan makhluk) dan tanpa ta’thil.

Allah Ta’ala berfirman, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuura : 11)

Nabi SAW bersabda, “Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam.” (Mutafaqqun ‘Alaih). Di sini turunnya Allah tidak sama dengan turunnya makhluk-Nya, namun turunnya Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan Zat Allah. Ahlussunnah hanya mengimani bahwa Allah memang turun ke langit dunia. Tapi tidak membahas hakikat bagaimana Allah turun apalagi menyamakan turunnya Allah dengan turunnya makhluk.

Ketika seseorang mengamalkan tauhid di atas dengan haq (benar), tentu akan mendapat faedah, di antaranya: mendapat hidayah di dunia, menjadi sebab terhapusnya dosa dan masih banyak lagi. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am : 82)

Jika seseorang telah menauhidkan Allah SWT secara rububiyah, hal ini berkonsekuensi seorang hamba harus menauhidkan Allah dalam uluhiyah. Artinya, apabila seseorang meyakini bahwa Allah-lah yang menciptakannya, mengatur alam semesta dan memberinya rezeki, selayaknya ia hanya beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Karena dakwah yang paling utama dan paling mulia adalah dakwah tauhid. Seperti perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Tauhid adalah kunci pembuka dakwah para Rasul.” Kemudian beliau menyebutkan tentang hadits Mu’adz bin Jabal yang diutus untuk mendakwahkan tauhid.

Jadi, sudah seharusnya seorang hamba mendahulukan hak Allah di atas hak siapa pun. Karena seorang hamba telah mengetahui siapa yang menciptakannya dan untuk apa ia diciptakan. Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Nabi telah mengingatkan bahwasanya cabang-cabang keimanan lainnya tidak akan sah dan tidak diterima kecuali setelah sahnya cabang yang paling utama ini (tauhid).” (w-islam.com/dari berbagai sumber)