Menuju Puncak Para Dewa

Menuju Puncak Para Dewa
Puncak Mahameru (Foto oleh Erik Purnama Putra)
Satu jam 30 menit sudah kami menempuh perjalanan dari Kota Malang. Minibus yang kami tumpangi berhenti di pertigaan Jemplang. Di sini, sinyal handphone susah didapat.

Berada di ketinggian sekitar 2.300 meter dpl, tempat ini terletak di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Jemplang menjadi titik pertemuan jalan yang menghubungan jalur ke Gunung Bromo dan Gunung Semeru.

Kalau kita memilih jalur kiri menurun maka jalan itu mengantarkan ke Gunung Bromo. Adapun jika mengikuti jalur lurus menanjak, kita akan sampai ke Desa Ranu Pani, yang merupakan desa terakhir di kaki Gunung Semeru. Alhasil, hampir sepanjang hari cukup mudah mendapati banyak orang yang hilir mudik dengan tujuan ingin mengunjungi dua kawasan wisata alam itu.

Tidak jarang, wisatawan lokal menjadikan Jemplang sebagai lokasi tujuan wisata karena terdapat menara pengawas yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk melihat pemandangan di sepanjang kawasan Bromo. Pada pukul 15:00 WIB, kabut tidak terlihat. Saya bersama enam rekan jurnalis didampingi tiga petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) berhenti sejenak menikmati pemandangan di Jemplang.

Pemandangannya sangat mengagumkan. Sepanjang mata memandang, terhampar perbukitan serba hijau. Bukit Teletubbies namanya. Kawasan ini sangat populer dan sering dijadikan lokasi syuting, selain lautan pasir Bromo. Bukit Teletubbies mendadak menjadi jujugan utama wisatawan setelah film 5 cm meledak di pasaran. Salah satu adegan di film itu menunjukkan keenam pemain utama tampak kagum dengan keindahan kawasan lembah savana ini.

Dari jarak satu kilometer, saya terus berdecak kagum menyaksikan keindahan perbukitan ini. Sayangnya, terdapat banyak goresan di antara hijaunya rerumputan yang tumbuh di seluruh lereng bukit. Hal itu tentu mengurangi kesempurnaan saya akan ketakjuban Bukit Teletubbies.

Goresan garis yang tampak dari jauh juga terlihat di luar jalur resmi menuju Gunung Bromo. Biasanya, pengendara motor trail dan jeep gemar melakukan aksi seenaknya ke luar jalur hingga merusak rerumputan yang tumbuh subur di savana. “Garis-garis goresan itu akibat para pengendara trail yang dengan seenaknya menaiki bukit. Ini tentunya merusak keindahan bukit,” kata Humas Balai Besar TNBTS Nova Eliana belum lama ini.

Pihaknya tidak bisa melarang bagi mereka yang mengendari trail ketika mengunjungi kawasan wisata Gunung Bromo. Ini lantaran aturan yang ada tidak memuat pelarangan soal pengendara trail. Hanya saja, institusinya sudah mulai giat menggandeng klub sepeda motor dan mobil untuk ikut serta menjaga kelestarian lingkungan.

Menuju Ranu Pani

Perjalanan dilanjutkan menuju Desa Ranu Pani yang berada di ketinggian 2.100 meter dpl. Jalan ke sana sebagian besar dalam kondisi baik. Lebarnya sekitar empat meter. Hanya ditemukan sedikit bagian jalan bolong dan makadam.

Perhatian Pemerintah Kabupaten Lumajang sepertinya cukup baik. Menyadari potensi Gunung Semeru sebagai lokasi pariwisata unggulan, mereka memperbaiki sarana infrastruktur agar memudahkan kendaraan melewati medan perbukitan. Meski jalannya terkesan menanjak, sebenarnya tempat pemeriksaan bagi pendaki yang ingin ke Semeru itu letaknya lebih rendah dari Jemplang.

Sekitar 30 menit mengitari jalan tanjakan, kami memasuki kawasan perkebunan. Tandanya, kami sudah dekat dengan Desa Ranu Pani. Tiba-tiba mobil kami berhenti. Seorang warga desa penjaga portal terlihat mencegat mobil. Setelah melihat seragam yang dikenakan petugas Balai Besar TNBTS, penjaga portal itu mempersilakan kami.

Berjarak 200 meter dari portal, kami berhenti di Pos Ranu Pani yang dijadikan base camp. Di sini lah kami bermalam, Senin (3/6) untuk memulihkan tenaga guna menyiapkan diri menghadapi pendakian.

Bagi pendaki umum, syarat wajib pendakian adalah harus membayar tiket Rp 7.000. Sedangkan, turis asing dikenakan Rp 24.500 per orang, rinciannya tiket Rp 20 ribu, ijin Rp 2.500, dan asuransi Rp 2.000. Mereka yang membawa kamera dan handycam dikenakan tarif tambahan rentang Rp 5.000 hingga 15 ribu. Tidak lupa, setiap orang wajib menyertakan surat keterangan sehat dari dokter untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan.

Sampai di Ranu Pani, saya memilih untuk berjalan-jalan. Puas melihat Danau Ranu Pani, saya dan kawan jurnalis menuju Danau Ranu Regulo yang berjarak 300 meter. Tempat ini kurang familiar. Ditambah letaknya di belakang bukit membuat Ranu Regulo sepi dari pengunjung. Namun suasana sepi itu malah yang kami cari untuk melepaskan lelah usai berangkat dari Malang.

Pukul 17:00 WIB, kami dipanggil untuk mengikuti audiensi dengan warga Desa Ranu Pani. Kebetulan, Balai Besar TNBTS kedatangan tamu dari Jakarta, yaitu Badan Perencanaan Pembangunan Pusat (Bappenas) yang sedang meninjau lokasi hutan lindung. Pertemuan berlangsung hingga pukul 22.00 WIB. Sejam kemudian, saya tarik selimut di penginapan yang terletak di depan Danau Rani Pani hingga terbuai di alam mimpi.

Pada Selasa (4/6), pukul 04:00 WIB, saya sudah terbangun. Usai Subuh, rombongan sudah berkumpul di Pos Ranu Pani. Kami dipersilakan sarapan agar tidak kelaparan. Saya memilih meningalkan beberapa barang yang dianggap tidak dibutuhkan demi mengurangi beban selama perjalanan pendakian. Karena itu, barang yang saya bawa tidak terlalu berat lantaran peralatan tenda juga disediakan petugas Wilayah Ranu Pani.

Setelah mengikuti instruksi singkat dari Kepala Balai Besar TNBTS Ayu Dewi Utari, rombongan bergegas meninggalkan Ranu Pani. Meski sudah menunjukkan pukul 06:00 WIB, sinar matahari belum terlihat karena tertutup kabut yang menyelimuti area perbukitan.
Belasan orang berjalan beriringin melewati jalur konvensional. Sebenarnya, terdapat jalur alternatif agar cepat sampai Ranu Kumbolo. Namanya jalur Ayek-Ayek yang digunakan porter (pengangkut barang). Namun, jalurnya cukup ekstrem, naik turun dan melelahkan, tidak cocok bagi pendaki pemula.

Jalur umum ini, sekarang kondisinya lebih bagus. Balai Besar TNBTS sudah membangun paving sepanjang tiga kilometer hingga mendekati Pos 2. Namun gara-gara longsoran tanah dari tebing, membuat paving terkubur sebagian. Sehingga, pendaki tetap saja menyusuri jalur tanah.

Sejam berjalan, kami sudah tiba di Landengan Dowo (2.270 meter dpl). Lokasinya berupa persimpangan jalur. Di sini, jalanan masih berupa paving, namun terletak di tepi jurang. Adapun, di sisi kanan, tumbuhan hutan tropis yang didominasi akasia dan pakis menjadi ciri khas yang mudah dijumpai.

Sejam berselang, kami tiba di Pos 1. Bentuk bangunannya sangat sederhana, berupa pondok beratap seng berukuran 2x2,5 meter. Puas beristirahat, kami melanjutkan jalan. Sekitar 10 menit berlalu, paving jalan sudah berganti jalur tanah.

Dari sini, nuansa pendakian mulai terasa karena kaki benar-benar menginjakkan tanah berkontur lembut dan keras. Kadang jalurnya berbatu diselipi akar pohon yang menjuntai ke tanah. Alhasil, jalur menuju Ranu Kumbolo yang terus menanjak secara perlahan semakin menguras stamina.

Tidak terasa, berjalan sembari memandangi jurang membuat kami tiba di Pos Watu Rejeng (2.300 meter dpl). Nuansa tempat ini terasa lembab karena menjadi kawasan basah akibat sering hujan. Ciri area ini adalah dinding bebatuan purba yang mencuat di antara rimbunan pepohonan setinggi hampir 100 meter.

Dari Waturejeng, jalurnya semakin menanjak akibat tingkat kemiringan semakin besar. Setibanya di Pos 3 yang bangunannya sudah roboh sejak dua tahun lalu, saya mengambil nafas sebentar. Ini saya lakukan karena di depan bakal disambut Tanjakan Bakri. Dinamakan seperti itu lantaran pembuat jalur adalah warga Ranu Pani bernama Pak Bakri. Panjangnya sekitar 30 meter dengan kemiringan sekitar 50 derajat. Puluhan langkah saya lalui tanpa henti.

Setibanya di atas, saya terengah-engah lolos dari adangan jalan yang disebut ‘bonus’ pertama pendakian ke Semeru. Nah, berjalan sekitar 10 menit, mata saya dikejutkan dengan kubangan air. Tidak disangka, pemandangan itu merupakan ujung danau. Saat itu, sisi jurang telah habis dan jalur berganti dengan impitan perbukitan.

Dari situ, pepohonan berganti dengan rerimbunan Edelweiss. Selain bunga abadi, terdapat berbagai jenis tanaman endemik, khususnya anggrek yang ditemukan di sepanjang perjalanan. Entah karena dekat dengan sumber air, berbagai tanaman itu tumbuh subur sepanjang tahun.

Ranu Kumbolo mulai terlihat. Tepat pukul 11.00 WIB, kami tiba di Ranu Kumbolo dan beristirahat di Pos 4. Berarti butuh lima jam dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo diiringi beberapa kali istirahat. Normalnya, perjalanan menuju danau di ketinggian 2.400 meter dpl ini cukup ditempuh empat jam.

Ranu Kumbolo yang diapit dua bukit selalu memancarkan pesonanya. Danau ini sangat menakjubkan dengan keindahan savananya yang luas. Sebagai primadona tempat yang paling banyak dikunjungi wisatawan dan pendaki, air di danau ini sangat jernih. Tiadanya perubahan fungsi lingkungan karena berada di kawasan hutan lindung membuat kelestarian Ranu Kumbolo terjaga dengan baik.

Setiap kita ke sini, sepanjang waktu bakal selalu tersaji pemandangan tenda berwarna-warni milik wisatawan maupun pendaki yang memilih berkemah di tepi danau. Pada puncak musim dingin, suhu udara bisa minus 20 derajat celcius. Dari sisi timur di antara dua bukit, hampir sepanjang hari selalu muncul kabut. Fenomena alam itu menjadi daya tarik bagi siapa pun sehingga membuat betah pengunjung untuk berlama-lama di sini.

Saat itu, cuaca sedang bagus-bagusnya. Sinar matahari sangat kuat hingga mampu menembus kabut. Suhu yang dingin menjadi agak hangat jadinya. Sayangnya, saya tidak berkesempatan berkeliling untuk melihat langsung keindahan itu dari dekat akibat dikejar waktu.

Sekitar pukul 12.15 WIB, kami melanjutkan jalan menuju Kalimati. Tanjakan Cinta menanti di depan. Jalur ini disebut 'bonus' kedua setelah Tanjakan Bakri. Sukses melalui Tanjakan Cinta yang cukup menguras tenaga, kami langsung diganjar dengan pemandangan memukau. Menatap ke bawah, terlihat hamparan savana seluas puluhan hektare.

Setelah berhati-hati menuruni jalan setapak dari bukit, sampai lah kami di Oro-Oro Ombo. Letaknya di balik Ranu Kumbolo. Di tengahnya, terdapat kebun bunga sejenis lavender berwanga ungu. Tingginya bisa mencapai 1,5 meter.

Karena sedang mekar, bunga lavender ini tampak mencolok dan saya tidak melupakan untuk berlari kecil menyusurinya. Tiupan angin dengan laju kencang menimbulkan suara hingga membuat bunga-bunga ikut bergoyang. Saya mengibaratkan suasananya mirip perkebunan di Eropa.

Kepala Resort Balai Besar TNBTS Wilayah Ranu Pani, Yohanes Cahyo menjelaskan, bunga mirip lavender itu ditemukan pada era Belanda. Melihat jenisnya, tentu bunga berwarna ungu itu bukan dari Indonesia. Namun karena berada di dataran tinggi, bunga itu bisa hidup sepanjang tahun. “Bunga seperti ini, adanya di Eropa. Kami menduga, bunga ini dibawa dari luar negeri. Masih kami teliti dan belum tahu bunga apa sebenarnya,” jelasnya.

Sekitar 15 menit berjalan, tiba lah kami di kawasan perbatasan savana dan pepohonan pinus yang berjajar rapi. Area perbatasan dua vegetasi ini dinamakan Cemoro Kandang (2.500 meter dpl). Cukup bersandar sebentar di pohon roboh, kemudian kami melaju menyusuri jalan setapak di hutan cemara.

Medannya terus menanjak dan cukup berat saat melalui Kalisat yang merupakan jalur lama muntahan lava Semeru. Karena itu, ditemukan pasir di jalur itu yang membelah hutan.

Kelelahan kami terbayar setelah melihat plang kayu bertuliskan Jambangan di 2.600 meter dpl. Dari sini, pemandangan puncak Semeru terlihat. Guratan keindahan punggung puncak tertinggi Pulau Jawa ini sungguh kentara.

Jam di tangan terlihat pukul 15:00 WIB. Cukup cepat perjalanan kami, karena hanya berhenti sebentar, tidak sampai benar-benar istirahat. Setengah jam berlalu, kami tiba di Kalimati.

Secara resmi, kawasan ini merupakan tempat perkemahan terakhir yang diijinkan Balai Besar TNBTS. Namun, seringkali pendaki tidak mematuhi rambu larangan itu. Mereka terus naik hingga menginap di Arcapada.

Ternyata belasan tenda sudah berjejer di Kalimati. Kami menjadikan area berketinggian 2.700 meter dpl ini sebagai base camp. Alasannya lebih karena faktor keamanan dan dekat dengan mata air bernama Sumber Mani.

Meski dekat, diperlukan perjalanan sekitar satu jam pulang pergi. Semua pendaki yang mendirikan tenda di Kalimati mengambil air dari sini. Pun demikian dengan pendaki yang ingin berkemah di Arcapada, biasanya membawa pasokan air sebanyak-banyaknya dari Sumber Mani. Di sini, kami melepas lelah untuk memulihkan tenaga, sebelum melanjutkan perjalanan ke Mahameru pada tengah malam.

sumber:
www.elangkesepian.wordpress.com
republika.co.id