Apakah Rokok Mengandung Darah Babi?

Apakah Rokok Mengandung Darah Babi?
Darah babi dalam rokok berfungsi menyaring toksin dan racun-racun tembakau
sehingga terminimalisasi

Rokok digunakan pertama kali oleh suku bangsa Indian di Amerika untuk keperluan ritual dalam pemujaan dewa atau roh. Pada abad ke-16, ketika bangsa Eropa menemukan Benua Amerika, mereka juga menemukan rokok dan membawa tembakau ke Eropa.

Para bangsawan merokok untuk kesenangan semata. Pada abad ke-17 pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itulah kebiasaan merokok mulai masuk ke negara-negara Islam.

Menurut World Health Organization (WHO), pada 2013 jumlah perokok di Indonesia terbanyak ketiga di seluruh dunia setelah Cina dan India.

Padahal, telah banyak riset yang membuktikan soal bahaya rokok pada kesehatan. Termasuk, memicu kanker, penyakit jantung, penyakit pernapasan, dan emfisema (penyakit paru obstruktif).

Selain kandungan zat kimia yang membahayakan dalam rokok, kabar tak sedap termutakhir muncul terkait kandungan darah babi di dalamnya. Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Anna P Roswiem mengatakan ada kandungan darah babi dalam rokok. “Iya, ada dalam filternya,” ujarnya.

Temuan ini didapatkan oleh seorang peneliti dari Australia. Peneliti tersebut meneliti kandungan darah babi dalam rokok ini di salah satu bandara militer di Cina.

Dalam rokok ada dua filter. Filter pertama, berwarna putih yang langsung ke mulut. Filter ini disambung lagi dengan filter kedua yang mengandung darah babi.

Darah ini digunakan untuk menyaring toksin yang ada dengan lebih baik. Hemoglobin dari darah babi menyaring racun-racun tembakau sehingga racunnya lebih sedikit.

Untuk membedakan manakah produk rokok yang mengandung darah atau tidak, kata Anna, secara sederhana bisa dilihat dengan saksama dari titik-titik kuning pada filter yang biasanya berwarna putih.

Titik kuning ini menandakan adanya hemoglobin atau darah. Pada kemasan rokok terdapat tanda Diamond Filter di punggung kemasan. Perusahaan rokok menulis keterangan tersebut di kemasan rokok dengan tulisan dan gambar.

Anna mengungkapkan, di Indonesia belum ada yang memproduksi rokok dengan kandungan darah walaupun di negara lain rokok dengan kandungan darah seperti yang dimaksud sudah beredar.

Uji DNA oleh BPPOM pada 2010 terhadap 10 filter merek rokok buatan lokal ataupun yang berlisensi luar negeri menyimpulkan tidak ada kandungan darah tersebut.

Meskipun begitu, ujar Anna, tidak berarti filter tanpa hemoglobin juga bebas dari titik kritis halal. Filter sendiri terbuat dari Carboxi Metil Selulosa (CMS) yang sebenarnya aman karena berasal dari tumbuhan. Tapi untuk membuat filter, CMS ini ditambahkan dengan gliserol dari gliserin.

Bahan pembuat gliserol ini sumbernya bermacam-macam, ada yang dari sintetik kimia yang halal dan ada juga dari lemak/minyak. Jika sumbernya dari lemak atau minyak, perlu diketahui sumbernya apakah dari hewan ataukah tumbuhan.


(REPUBLIKA.CO.ID)