KI TARUNA, PONARI DARI KEBUMEN

KI TARUNA, PONARI DARI KEBUMEN
Ki Taruna (60) tengah mengobati salah satu pasien di rumahnya,
 Desa Krakal, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen.
RUMAH Ki Taruna (60) di Desa Krakal, Kecamatan Alian, Kebumen yang selama ini sepi, sudah dua minggu ini selalu dipadati warga. Kedatangan warga yang berasal dari berbagai daerah itu untuk menyembuhkan penyakit yang mereka derita.

Bermacam-macam tamu yang datang mulai dari penderita stroke, gagal ginjal, asam urat, gatal-gatal, hingga penderita gangguan mata. Mereka mengetahui kabar keahlian Ki Taruna dalam pengobatan penyakit itu dari mulut ke mulut. Ada juga ingin mencoba karena mendapat kabar sudah banyak pasien yang sembuh setelah berobat ke sana.

Ya, Ki Taruna bukanlah seorang dokter, perawat, tabib atau seorang paranormal. Sebelum dikenal bisa membantu mengobati penyakit, pria lanjut usia yang hidup sebatang kara yang di tinggal mati istrinya dan belum mempunyai keturunan itu sehari-hari bekerja sebagai petani. Informasi yang beredar di masyarakat, sebelum diberikan kelebihan di bidang pengobatan Ki Taruna mengalami peristiwa magis.

Penasaran dengan kabar itu, Tim Kompasianer Ondo Supriyanto mendatangi rumah Ki Taruna yang berada di RT 04 RW 08 Dusun Jerotengah, Desa Krakal, Kecamatan Alian, Rabu (18/9). Rumah tersebut sekitar tiga kilometer arah utara menuju Desa Pujotirto, Karangsambung atau 15 KM ke utara dari Kota Kebumen. Jalan menuju rumahnya cukup sempit tapi masih bisa di lalui mobil pribadi atau angkot.

Di serambi rumah berdinding bambu dan berlantai tanah itu terdapat empat orang yang sedang duduk di kursi plastik yang disediakan. Mereka ternyata sedang antri untuk mendapatkan pengobatan dari si empunya rumah. Agar pasien tertib sesuai antrian, mereka terlebih dulu didaftar dalam sebuah buku tulis oleh Saryati (34) keponakan Ki Taruna atau Anak dari Ki Basuki yang dulu pernah bekerja di Pusat Grosir Perdagangan Pasar Pagi Mangga Dua Jakarta yang tinggal persis di depan rumahnya.

“Awalnya nggak perlu didaftar, tapi karena kemarin tamu saling serobot jadi ditulis urut kehadiran,” ujar Saryati menjelaskan.

Cara pengobatan yang dilakukan oleh Ki Taruna, mengingatkan pada Ponari dukun cilik asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur yang terkenal karena celupan batu saktinya. Media pengobatan Ki Taruna juga menggunakan batu. Segelas air celupan batu kecil berwana hitam itu setengahnya diminum oleh pasien. Sedangkan sisanya diusap-usapkan ke tubuh pasien. Tak hanya itu, untuk mendeteksi penyakit, batu berbentuk pipih tersebut diletakkan di tubuh pasien.

Dari Kuburan

Ditanya asal usul batu tersebut, Ki Taruna bersedia bercerita. Peristiwa itu terjadi pada malam takbiran Hari Raya Idul Fitri lalu. Dalam perjalanan pulang membayar zakat fitrah, dia mengaku seolah ditemui wujud istrinya Waliyah yang dulu setiap hari pasaran Selasa dan Sabtu menjual tahu di Pasar Krakal yang sudah meninggal setahun silam. Saat dia diajak ke kuburan istrinya.

Di atas pusara istrinya dia melihat cahaya yang sangat terang yang berasal dari sebuah batu.Setelah batu dipegang dan dimasukkan saku, suasana gelap kembali. Di atas kuburan itu Ki Taruna juga mengaku menemukan amplop yang diminta untuk membayarkan zakat fitrah untuk almarhum istrinya. Ki Taruna mengaku tidak tahu jumlah uang yang dibayarkan untuk zakat fitrah. Namun menurut penerima zakat jumlah uang yang diberikan oleh Ki Taruna Rp 20.000.

“Pesannya, batu ini untuk menolong orang,” ujarnya.

Pengalaman itu hanya dia simpan sendiri. Sampai, 15 hari kemudian Ki Taruna jatuh sakit yang sangat parah. Bahkan warga setempat sudah siap-siap jika nyawa pria yang tak memiliki anak itu tidak tertolong. Saat itulah Ki Taruna teringat dengan batu yang diperoleh dari pemakaman itu. Setelah minum air celupan dari batu tersebut, dia mengaku kondisinya membaik dan berangsur sembuh.

“Ya begitulah, kemudian banyak warga yang meminta tolong untuk disembuhkan,” imbuh Saryati.

Dalam Sehari Ki Taruna rata-rata hanya melayani sekitar 17 pasien. Pasien yang datang terlambat disarankan mendaftar untuk hari berikutnya. Pasien tidak hanya datang dari Kebumen dan sekitarnya. Ada juga yang datang dari Jambi.

“Kemarin ada pasien yang datang tidak bisa jalan, setelah diobati pulang langsung bisa berjalan,” ujarnya seraya mengatakan setiap tamu yang datang tidak dipatok tarif. ***


source:kesehatan.kompasiana.com