Lubang Hitam di Alam Semesta Kita Ternyata "Berbulu"

Lubang Hitam di Alam Semesta Kita Ternyata "Berbulu"
Dari hasil observasi Sagitarius A, lubang hitam di galaksi
Bimasakti, ilmuwan memprediksi bahwa lubang hitam punya
bentuk bulan sabit. | Kamruddin/Dexter
Dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam Physical Review Letters, lubang hitam di antariksa kemungkinan tidaklah "botak". Studi terbaru ini menyatakan bahwa lubang hitam cukup berbulu dengan fitur yang cukup masai dibanding keyakinan yang ada selama ini.

Thomas Sotiriou, ahli fisika dari International School for Advanced Studies of Trieste, mengatakan, gambaran mengenai black hole yang diterima selama ini adalah obyek yang sederhana. "Yang bisa dicirikan dengan hanya tiga kuantitas, yaitu massa, momentum yang kaku, dan muatan listriknya," kata Sotiriou seperti dilansir Space.com, Rabu (16/10/2013).

Meski muatan listriknya cukup kecil, para pakar kerap melontarkan ini sebagai salah satu ciri lubang hitam. Teori yang dikembangkan Sotiriou bertentangan dengan apa yang disebutkan oleh astronom John Wheeler—yang membulatkan sebutan "black hole" sekitar 50 tahun lalu.

Wheeler pernah menyebutkan bahwa lubang hitam tak punya bulu karena kesederhanaannya. Kini, "bulu" digunakan sebagai istilah sehari-hari di antara sesama fisikawan sebagai pengganti bagi perhitungan lain untuk menggambarkan black hole yang berbeda dibanding lubang hitam tradisional dengan model tiga kuantitas yang sempat disebutkan di atas.

Untuk studi ini, Sotiriou dan kolega merujuk pada black hole dalam konteks yang ada dalam persamaan teori skalar-tensor gravitasi. Teori ini sangatlah berbeda dengan yang pernah dicetuskan Albert Einstein mengenai relativitas.

Disimpulkan bahwa black hole bisa mengembangkan semacam "bulu" ketika dikelilingi obyek umum. "Hal ini tidak bisa terjadi di gambaran pada umumnya," kata Sotiriou.

Ditegaskan Sotiriou bahwa keberadaan "bulu" bisa membantu peneliti mengerti lebih dalam struktur dari black hole. Juga bisa membalikkan paradigma yang ada mengingat teori Einstein tidak termasuk bidang skalar. (National Geographic Indonesia)

source:kompas.com