MA'RIFATULLAH ADALAH MODAL DASARKU

ma'rifatullah

Seorang ahli sejarah yang bernama Michael Hart dalam bukunya yang berjudul “The 100 : ranking of the most influential persons in history revised and updated for the nineties”. (dalam edisi bahasa Indonesia diterbitkan dengan judul : “Seratus Tokoh Sejarah Yang Paling Berpengaruh di Dunia”), menempatkan Nabi Muhammad Saw diurutan pertama sebagai orang yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Penempatan Nabi Muhammad Saw pada urutan yang pertama, didasari oleh kenyataan sejarah bahwa beliau berhasil mengubah peradaban masyarakat di Jazirah Arab dan sekitarnya, ke arah yang lebih baik, bahkan pengaruhnya juga menyebar ke seluruh dunia. Pengaruh Nabi Muhammad Saw terhadap perubahan dan perkembangan peradaban dunia, jauh melampaui tokoh-tokoh dunia lainnya seperti Newton penemu teori gravitasi dan Albert Enstein penemu teori relativitas, bahkan melebihi Nabi Isa atau Yesus Kristus.

Tokoh seperti Newton dan Albert Enstein dipilih sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh di dunia karena mereka mempunyai modal dasar kecerdasan yang sangat jenius dibidang ilmu fisika. Mungkin timbul pertanyaan di dalam diri setiap orang, modal apakah yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw. sehingga beliau bisa dipilih sebagai tokoh nomor satu yang mempengaruhi peradaban dunia ? Jika kita telusuri sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw, ternyata beliau adalah seorang yang sangat sederhana, bahkan mayoritas ulama berkeyakinan bahwa beliau adalah seorang yang tidak bisa baca tulis atau umi. Tetapi dibalik kesederhanaannya, beliau memiliki keistimewaan yang luar biasa yaitu beliau adalah seorang yang sudah mengenal Allah (ma’rifatullah) dalam arti yang sebenarnya. Sesungguhnya, inilah modal dasar yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw, sehingga beliau dapat memajukan peradaban masyarakat dunia. Hal ini sesuai dengan sabda beliau, yaitu :

“Ma’rifatullah itu modal dasarku”. ( Al Hadits)

Berdasarkan hadits tersebut, ternyata modal dasar dari Nabi Muhammad Saw adalah pengetahuan mengenal Allah, bukan harta kekayaan, kekuasaan atau pengetahuan lainnya. Bahkan dalam hadits lain, Nabi Muhammad Saw, menegaskan bahwa amal ibadah seseorang sedikit bermanfaat apabila tidak sertai dengan ma’rifatullah.

“Sesungguhnya banyak amal ibadah tanpa ma’rifatulah sedikit manfaatnya, tetapi sedikit amal ibadah disertai ma’rifatullah akan banyak manfaatnya”. (Al Hadits)

Apakah yang dimaksud dengan ma’rifatullah itu? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan ma’rifatullah itu? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itulah ,makalah ini mencoba untuk membahas masalah ma’rifatullah

Setiap agama dan aliran kepercayaan yang ada diseluruh dunia, mempunyai ajaran dan sebutan yang berbeda-beda tentang apa yang diyakininya sebagai Tuhan yang patut disembah oleh mereka. Orang Islam menyebut-Nya dengan nama Allah, orang Nasrani menyebut-Nya dengan nama Allah Bapa, orang Yahudi menyebut-Nya dengan nama Yehowah dan masih banyak lagi sebutan yang nisbahkan kepada yang dianggapnya sebagai Tuhannya masing-masing. Setiap agama juga mempunyai tata cara masing-masing dalam melakukan penyembahan kepada Tuhannya.

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat) Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. ( QS Al Baqrah 2 : 148)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tiap-tiap umat memiliki arah penunjuknya sendiri-sendiri. Disini Allah dengan tegas menyatakan bahwa perbedaan ini tidak perlu dipersoalkan. Tinggal masing-masing umat saling berlomba dalam menciptakan kebaikan , menjalankan semua yang telah diperintahkan oleh Allah . Misalnya menciptakan kedamaian, baik bagi sesama umat manusia dan juga makhluk lainnya serta alam semesta. Sebab apa yang pernah dilakukan di dunia, semuanya akan dipertanggungjawabkan di Yaumil Qiyamah. Hal ini ditunjukkanoleh kalimat “Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian”. Ibnu Abbas, salah seorang sahabat terkemuka, sebagaimana ditulis Ibnu Katsir (1320 – 1370 M) dalam tafsir Al Qur’an Al Adzim, menyatakan bahwa kandungan ayat ini sejalan dengan ayat lain yaitu :

“……. Bagi tiap-tiap umat diantara kamu, Kami telah buatkan bagi mereka jalan dan metode…….”. (QS Al Maidah 5 : 48)

Perbedaan dalam doktrin setiap agama dan dalam menyebut nama Tuhan ini, terkadang menyeret umat beragama ke dalam perdebatan tentang kebenaran agamanya masing-masing sehingga pada akhirnya timbul pertengkaran dan permusuhan antar umat beragama. Padahal dalam Al Qur’an, Allah telah melarang setiap umat untuk saling mencaci maki tentang ajaran agama.

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, maka mereka akan memaki Allah dengan permusuhan tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik amal ibadah mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”. (QS Al An’am 6 : 108)

“……….Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang bertakwa”. (QS An Najm 53 : 32)

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang mengetahui tentang orang-orang yang tersesat dari Jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS Al An’am 6 : 117)

Konsep tentang Tuhan disetiap ajaran agama dan aliran kepercayaan memang terkesan mempunyai perbedaan yang sangat tajam, tetapi apabila ditelusuri lebih mendalam, secara hakikat tersirat ada titik temu diantara perbedaan konsep tersebut. Hal ini bisa dilihat dari ayat-ayat yang menginformasikan tentang siapa Tuhan itu sebenarnya, yang terdapat dalam kitab-kitab sucinya masing-masing. Misalnya dalam Al Qur’an (agama Islam), telah dijelaskan bahwa Allah itu adalah Cahaya diatas Cahaya :

“Allah itu adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya-Nya adalah seperti misykat. Dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu dalam kaca. Kaca itu laksana bntang berkilau. Dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di Timur atau di Barat, yang minyaknya hampir-hampir menyala dengan sendirinya walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas Cahaya. Allah akan menunjukkan Cahaya-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh Allah mengetahui segala sesuatu”. (QS An Nur 24 : 35)

Dalam Kitab Injil (Agama Kristen), juga telah dijelaskan bahwa Tuhan itu adalah Cahaya.

“Aku adalah Cahaya yang datang di dunia ini, supaya barang siapa yang kenal akan Daku, janganlah tinggal di dalam gelap”. (Injil, Yahya 12 : 46)

“Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja Cahaya-Nya”. (Injil, Yahya 5 : 35)

Begitupula, dalam Kitab Baghawad Gita (agama Hindu), juga dijelaskan bahwa Brahma itu adalah Cahaya :

“Beri santaplah yang bercahaya (Brahma Sang Pencipta), mudah-mudahan engkau akan dikaruniai, dari jalan inilah akan tercapai keselamatan yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu yang bercahaya diberi santapan kurban, akan mengkaruniai segala kenikmatan yang diharap”.

Menurut agama Budha, sebutan bagi Tuhan Yang maha Esa adalah Sanghyang Adi Budha, sebagai sumber dari segala sumber yang memancarkan sinar-Nya dan menciptakan dari Dirinya sendiri lima Dyani Budha yaitu :

1. Vairocana : Sumber Cahaya
2. Aksobya : Sumber Ketenangan
3. Ratna Sambhawa : Permata Alam Semesta
4. Amitabha : Cahaya Tanpa batas
5. Amoasidhi : Maha Jadi Yang Tidak Mengenal Kegelapan.

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat isyarat yang sama tentang hakikat dari Sang Maha Pencipta di setiap kitab suci agama, yaitu bahwa Dia adalah Cahaya diatas Cahaya. Mengapa setiap Kitab Suci memberitahukan konsep ketuhanan yang sama ? Jawaban adalah karena isi dari semua Kitab Suci tersebut berupa Cahaya dan Petunjuk yang disabdakan oleh Sang Maha Cahaya kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat, didalamnya berisi Petunjuk dan Cahaya….”. (QS Al Maidah 5 : 44)

"Dan Kami telah memberikan Kitab Injil yang didalamnya berisi Petunjuk dan Cahaya……”. (QS Al Maidah 5 : 46)


“…….Kami menjadikan Al Qur’an itu Cahaya……”. (QS Asy Syura 42 : 52)

Selama ini, semua pemeluk agama hanya mengenal Kitab Suci agamanya sebatas petunjuk yang berupa tulisan saja, sehingga terjadi perbedaan dalam memahami ajaran dari Sang Maha Pencipta. Padahal berdasarkan ayat-ayat tersebut, di dalam setiap Kitab Suci terdapat juga Cahaya yang dapat menerangi kita dari kegelapan dan kebodohan. Satu-satunya cara untuk dapat memahami isi Kitab Suci yang berupa Cahaya adalah dengan mempelajari ilmu ma’rifat, karena hanya ilmu ma’rifat sajalah yang menjadi modal dasar dari Nabi Muhammad Saw dan juga Para Nabi dan Rasul lainnya.

Istilah “ma’rifatullah” terdiri dari dua kata, yaitu kata “ma’rifat” dan kata “Allah”. Kata “ma’rifat” berasal dari akar kata ‘arafa yang artinya mengangkat, mengenal,mengetahui dan memahami. Kata ma’rifat seakar dengan kata ma’arif, ma’ruf, ‘arafah, ‘urf, ‘arif, irfan.

Imam Al Ghazali memberikan perumpamaan tentang apakah yang dimaksudkan dengan ma’rifat itu dengan pengalaman merasakan keberadaan sang api, maka ilmu itu ibarat melihat api, sedang ma’rifat itu merasakan panasnya (memahami bagaimana api itu, bagaimana macam-macam panas, seberapa panas dan sebagainya). Demikian juga dalam Islam, kita mengetahui bahwa diri ini terdiri dari jasad dan ruh. Jasad diciptakan dari tanah, sehingga tumbuh dan berkembang di tanah dan bumi dan memakan makanan hasil bumi. Ketika bahan makanan tersebut diolah sehingga menjadi makanan siap hidang, maka kita disebut memiliki ilmu tentang makanan. Tetapi proses ma’rifat terhadap makanan itu sesungguhnya baru dimulai ketika masakan tersebut kita kunyah. Kemudian kita rasakan kelezatannya, ditelan, dicerna dan diserap oleh tubuh. Dan seluruh proses ini semata-mata ditujukan untuk tumbuh berkembang dan sehatnya jasad.

Sebagaimana keharusan berkembangnya si jasad, nur insan kita pun harus tumbuh dan berkembang. Untuk itu nur insan perlu makan. Dan sebagaimana asal peniupannya, maka makanan bagi nur insan pun berasal dari cahaya. Tetapi cahaya yang dimaksud bukanlah semata-mata berupa gelombang elektromagnetik berkecepatan 3.108, melainkan segala sesuatu yang menghapuskan kegelapan. Bukankah sifat cahaya adalah menerangi dan menyingkap kegelapan? Cahaya berkecepatan 3.108 ini oleh Al-Qur’an disebut Cahaya Bumi. Sedangkan Cahaya yang akan menghapus kegelapan ketidaktahuan dan kegelapan kegaiban disebut Cahaya Langit. Percaya atau tidak, semua cahaya ini merupakan makanan bagi nur insan kita.

“Allah adalah cahaya langit dan bumi…”. (QS An Nur 24:35)

Yang dibutuhkan oleh nur insan untuk tumbuh dan berkembang adalah cahaya langit yang seperti ini. Ilmu adalah ketika makanan cahaya seperti ini tampak. Dan proses memakan dan mencernanya disebut dengan Ma’rifat

“(ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: ‘Hai Isa putera Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. Isa menjawab,”Bertaqwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman”. Mereka berkata : ”Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan”. (QS Al Maidah 5 : 112-113)

Dikatakan dalam Al Qur’an bahwa Allah adalah cahaya langit dan bumi. Karena itu, yang dima’rifati pada hakikatnya adalah Dia. Inilah yang disebut dengan Ma’rifatullah yang hakikatnya adalah proses tumbuh dan kembangnya nur insan kita, hanya melalui metabolisme ilmu dan cahaya. Al Qur,an mengajarkan kepada kita bahwa untuk mengidentifikasikan kehadiran Cahaya Langit ini harus diawali melalui proses pensucian mata hati, dan kemudian membimbing si jiwa untuk hidup, tumbuh dan berkembang dengan ‘mengkonsumsi’ cahaya langit tersebut. Dan selanjutnya mengarahkan nur insan tersebut untuk bertemu dengan jati dirinya, agar ia bisa menjadi cahaya bagi sesamanya. Proses perkembangan nur insan dapat dianalogikan seperti perkembangan manusia. Ia harus dirawat dan dijaga oleh orang yang tahu supaya tidak bahaya, diberi makanan bergizi, makanan lembut dan halus, diberi “bimbingan” dan “ajaran” hingga paham, sampai ia tumbuh dewasa dan mampu berdiri sendiri, bahkan mampu membimbing nur insan lainnya.

Imam Al-Ghazali ketika ditanya, apakah tanda-tanda ma’rifat itu. Jawabnya “yaitu hidupnya qolbu bersama Allah”. Allah mewahyukan kepada Nabi Daud as, “Mengertikah engkau, apakah ma’rifatKu itu?”. Daud menjawab, ”Tidak”. Allah berfirman,”Hidupnya qolb dalam musyahadah kepada-Ku”.

Allah adalah An-Nuur. Dan kehendak-Nya pun adalah cahaya. Qolb kitapun hidup ketika memakan kehendak Allah itu.

”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS Ar Ra’du13 : 28)

penulis: Abu Irsyad |ajaransufi.blogspot.com