SITUS BATUR AGUNG PENINGGALAN PURBA DARI ZAMAN MEGALITIKUM

Mas Agus Wachyono di Situs Batur Agung

Di Wilayah Banyumas terdapat Situs Batur Agung, sebuah situs purba dari jaman megalitikum yang lokasinya berada di hutan kecil kaki Gunung Slamet, tepatnya di Dusun Pondok Lakah, Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, 14,4 km dari Alun-alun Purwokerto.

Setelah sekitar 40 menit perjalanan naik sepeda motor dari Purwokerto, masuk ke sebuah lapangan terbuka lumayan luas dengan gerombol pepohonan lebat di sebelah kirinya, dimana pintu masuk ke Situs Batur Agung berada.

Sepasang pagar besi menjadi pintu masuk ke Situs Batur Agung, dengan tengara Benda Cagar Budaya dari dinas purbakala setempat. Tidak ada penjaga, sehingga kita pun berjalan kaki masuk melewati pagar dan meniti jalan setapak diantara pepohonan yang cukup lebat. Susunan bebatuan yang khas terlihat di beberapa tempat ketika kita lewat melintas.

Sesaat kemudian terlihat sebuah bangunan kecil di ujung jalan setapak Situs Batur Agung, dengan sebuah pohon besar berbatang lurus tinggi berada beberapa meter sebelumnya.

Suasana sepi dan hanya suara serangga penghuni hutan yang kadang terdengar. Tidak ada seorang pun terlihat tengah berada di area sekitar Situs Batur Agung. Meskipun demikian belum terasa ada hawa wingit.

Bangunan cungkup Situs Batur Agung itu, yang orang Banyumas menyebutnya cungkub (dengan b berat), berukuran sekitar 4 x 5 meter yang belakangan kita lihat berisi beberapa artefak dan sebuah arca peninggalan Hindu. Area di sekitar cungkup Situs Batur Agung ini relatif bersih dan rapi, yang di jaga oleh seorang kuncen yang bernama Sobirin (63 tahun).

Sebuah batu purba yang ditatah halus terlihat di sekitar cungkup Situs Batur Agung. Rimbun pohon tinggi yang lebat, serta curah hujan di kaki Gunung Slamet yang lumayan tinggi membuat batu-batuan di situs ini kebanyakan telah ditumbuhi lumut tebal.

Berjalan di depan cungkup Situs Batur Agung terlihat bahwa pintunya terkunci, sehingga kita pun melewatinya dan tiba di tempat terbuka di samping cungkup dimana terdapat tatanan batuan purba lagi. Di halaman cukup luas di sebelah kiri cungkup Situs Batur Agung itu formasi batuan purba berukuran kecil.

Di dalam cungkup Situs Batur Agung terdapat kumpulan batuan kuno berbagai rupa dan bentuk, serta perlengkapan sesajen mawar melati dan buahan, gundukan bakaran dupa, sampai sisa bakaran batang hio.

Ada lumpang berbentuk bulat, patung kasar tanpa kepala, dwarapala yang relatif masih utuh, dan batu-batu yang dikait-kaitkan dengan tokoh-tokoh pewayangan Jawa, seperti Batara Guru, Batara Narada, Semar dan Togog. Letak batu-batu di situs ini sebagian sudah ditata oleh masyarakat lantaran terserak dimana-mana.

Situs Batur Agung rupanya juga dipercaya sebagai petilasan Raden Kamandaka, atau Raden Banyak Cotro, putra Prabu Dewa Niskala Raja Kerajaan Pajajaran (Kawali). Nama Raden Kamandaka sangat dikenal oleh masyarakat Banyumas, diceritakan turun temurun dalam kisah legenda Lutung Kasarung. Jaman ketika masih kecil, saya cukup sering mendengarkan siaran sebuah stasiun radio lokal yang mengudarakan kisah ini secara bersambung.

Situs Batur Agung berupa punden berundak yang memiliki tiga teras, dengan orientasi Utara Selatan, menggunakan Gunung Slamet sebagai kiblat yang dipercaya sebagai persemayaman akhir arwah leluhur. Namun arca dwarapala menunjukkan adanya pula peninggalan budaya Hindu di tempat ini.

Di satu tempat terbuka di dalam hutan terlihat ada menhir batu cukup besar dan lingga kecil yang biasa digunakan sebagai sarana pemujaan bagi arwah nenek moyang. Tak Jauh dari Menhir terdapat sebuah batu purba berbentuk pelana kuda menyerupai batu asahan pisau.

Berjalan puluhan langkah memutari hutan, sampailah di cabang jalan setapak. Cabang jalan ini menurun cukup tajam dan di ujungnya terdapat sendang dan pancuran, yang dicapai dengan melewati pasangan batu-batu kecil yang harus cukup hati-hati ketika menapakinya.

Sendang yang digunakan sebagai tempat bersuci orang jaman dulu itu kini juga menjadi tempat bersuci bagi para peziarah yang datang ke situs untuk bersemedi, berdoa dan mendekatkan diri pada Yang Mahakuasa.

Setelah dari sendang terus keluar dari kompleks Situs Batur Agung dimana terlihat beberapa buah kendaraan berhias binatang milik Wisata Batur Agung Mount of Fun, yang mengembangkan kompleks wisata keluarga dan petualangan di area sekitar Situs Batur Agung ini.