Koridor Berpikir

Koridor Berpikir


Bismillahirrahmaanirrahiim

Daya pikir manusia selain fitrahnya selalu objektif (independen dan apa adanya), juga bersifat bebas dan tidak dapat dibatasi.
Kita semua bisa tahu dan merasakan hal itu. Yaitu di suatu saat kapanpun, ketika kita menerawang memikiri hal apapun, hingga pikiran melantur tak tentu arah.

Karena fitrah kebebasan itulah maka Rasulullah beberapa kali telah memperingatkan kita selaku umatnya, seperti nampak dalam dua hadits shahih berikut ini :
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda : "Sesungguhnya syaitan mendatangi salah seorang dari kamu, lalu berkata 'Siapakah yang telah menciptakan ini ? Siapakah yang telah menciptakan itu ? Hingga syaitan berkata kepadanya 'Siapakah yang menciptakan Rabb-mu ?'.
Jika sudah sampai demikian, maka hendaklah kamu berlindung kepada Allah dengan mengucapkan isti'adzah dan berhenti (memikirinya)". (HR Muttafaq Alaihi)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu'anhu ia berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Allah subhanahu wa ta'ala Berfirman; Sesungguhnya umatmu akan terus-menerus bertanya apa ini, apa itu ? ". Hingga mereka bertanya 'Allah telah Menciptakan ini dan itu. Lalu siapakah yang menciptakan Allah ? " (HR Muslim)

Dua hadits itu jelas menyiratkan karakteristik daya pikir akal manusia yang sifatnya bebas dan seolah tak berbatas.
Dan sabda Rasulullah dalam hadits itu bukan dimaksud hendak membatasi pikiran seseorang.
Melainkan untuk mengarahkan serta meluruskannya, agar kebebasan berpikir itu tetap dalam koridor fitrah kebebasannya, sehingga produk pikirnya pun jadi bisa diharap selalu bernilai benar pula.
Karena seperti nampak di jaman jahiliah modern ini, betapa manusia-manusia yang konon mengusung kebebasan berpikir, tapi faktanya mereka ialah manusia yang sudah terjebak dan terbelenggu akal pikir dan akal budinya, sehingga pikirannya tiada lagi bebas sebagaimana fitrahnya. Hal itu karena sang akal sudah terjerat oleh tipu daya iblis-syetan.
Dan indikatornya sangat nampak kentara, yaitu dari hasil olah pikirnya yang berciri fasik dan rancu (ada unsur pendustaan terhadap Al Qur'an).

Sekali lagi perlu diperjelas dan kita tegaskan.
Bahwa fitrah kebebasan selalu bernilai baik dan benar.
Sehingga setiap produk olah pikir yang fasik dan akibatnya selalu menimbulkan beragam defects (kerusakan), semua itu karena KETIDAK-BEBASAN para perseptornya.
Hal ini sangat penting untuk kita pahami. Guna meluruskan pendefinisian yang kerap dibuat terbalik, dimana hasil pikiran yang melantur tak tentu arah dan berakibat defects pun malah jadi dianggap sebagai bagian dari prinsip kebebasan berpikir.

Allah ta’ala Menciptakan segala realitas di semesta alam selalu DIA sertai dengan misteri (= sesuatu aspek yang tak akan dimengerti akal manusia).
Selain aspek misteri itu sebagai satu bukti tentang kebenaran Ciptaan Allah yang tiada berhingga, juga karena dengan adanya unsur misteri itulah maka hidup dan kehidupan umat manusia selalu jadi bergairah dan dinamis.

Oleh sebab itu berkenaan dengan 2 hadits tersebut, jangankan memikiri tentang Allah ta'ala dengan segala sesuatu-Nya, seperti tentang Dzat Allah, dari mana Allah berasal, dsb.
Bahkan bila seluruh umat manusia berkumpul untuk berembuk guna fokus memikiri satu hal sederhana semisal jempolnya, niscaya akan selalu mentok pada misteri. Dimana di saat itu dan sampai kapanpun manusia tidak akan pernah tahu dengan seutuh-utuhnya atau selengkap-lengkap pengetahuan tentang jempolnya sendiri.

Apalagi memikirkan Allah dengan segala Sifat-Nya yang ada di tataran dimensi tingkat supra (serba MAHA).

Bilapun ada manusia yang ngotot untuk terus memikiri Dzat Allah, maka pastilah sampai kapanpun hasil olah pikirnya itu akan selalu nampak salah dan tiada mungkin bisa nalar (logis).

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda : “Tafakkaruufii khalkillah walaa tafakkaruu fii dzatihi”  (Berpikirlah kamu tentang Ciptaan Allah, tapi jangan berpikir mengenai Dzat-Nya).
Atau : berpikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-sekali engkau berpikir tentang Dzat Allah.
(Hadits hasan, Silsilah al Hadiits ash Shahiihah)
Hadits ini menunjukan perintah Nabi untuk memikiri segenap Ciptaan Allah yang sarat akan hikmah beserta nikmat dari-Nya.
Dan untuk mampu memetik hikmah serta mereguk berbagi nikmat itu, berpikirnya tentu harus lurus.

Sebagai mahluk yang memiliki keterbatasan pada otak, akal, dan daya pikirnya, mestinya sejak awal manusia sudah harus tahu diri.
Yaitu tahu diri akan fakta keterbatasannya itu, dan ia sangat memerlukan petunjuk serta panduan untuk dapat memikiri hal apapun secara lurus (benar).
Dan pembatas atau batasan, bingkai koridor, petunjuk dan panduan proses pikir lurus itu hanya ada satu-satunya, yaitu Al Qur’anul Kariim yang disertai as-Sunnah / al-Hadits (yang shahih). *)

Dari semua uraian singkat itu semakin nampak relevansi dan betapa penting bagi kita untuk selalu taat mengamalkan prinsip berpikir lurus yang tersebar di lebih dari 200 ayat Al Qur'an (bahkan ada ulama lain yang mengatakan ada di sekitar 700 ayat), sebagai salah satu KEWAJIBAN bagi setiap insan Islam.
Dan berpikir lurus itu pada dasarnya sangat MUDAH, karena produk serta tujuan utama proses berpikir lurus bukan untuk tahu sebanyak-banyaknya hal atau untuk bisa meraih sebanyak-banyaknya ilmu.
Melainkan agar respon kita selalu bisa tepat di saat mempersepsi hal apapun.

Wallahu’alam bisshawab.
Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil'adziim.
Lahaula walaa quwata ilabillahil’aliyyiil’adziim …


source:www.facebook.com/notes/pesona-tauhid